Saya gak ngerti ini sudah postingan tentang Muntok yang keberapa, jelasnya kota kecil ini bener-bener bikin saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Emmmtalah.Gak melebih-lebihkan sih, tapi emang potensinya banyak banget meskipun masih jarang disinggahi pengujung karena letaknya yang jauh dari pusat Kota Bangka.
Sebelumnya saya juga gak tahu menahu tentang julukan ini, yang ternyata memang tercatat di MURI sejak tahun 2010. Diawali dnegan acara hari jadi Kota Muntok dan menyelenggarakan Festival 1000 Kue selama tiga hari, ternyata jenis kuenya mencapai 217 sehingga jadilah julukan ini dan telah diresmikan juga.
Kalau kita cuma denger 'konon katanya' dan sekedar julukan ya kurang seru dong? Setelah bertanya warga setempat dimana pusat kue-kue tersebut, kami langsung menuju TKP yaitu di sebrang Masjid Jami dan Klenteng yang menjadi landmark Kota Muntok ini, kebetulan banget bisa sekalian!
Kue-kuenya literally buanyak! Kecil-kecil juga harga rata-rata cuma seribuan, jadi bisa mencoba banyak macem. Sebenernya kuenya juga ada seperti jajanan pasar di Jawa, jadi yang saya coba yang bener-bener khas Muntok dan gada di daerah saya.
Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label history. Tampilkan semua postingan
8.11.18
5.11.18
Napak Tilas Proklamator di Wisma Ranggam
Salah satu tempat bersejarah di Muntok ini memang
sengaja saya tulis ekslusif di satu postingan karena menurut saya tempat ini
menjadi cikal bakal sejarah besar dan memiliki nilai historis yang tinggi.
Letaknya sendiri gak jauh dari Museum Timah Bangka, serta letaknya strategis di
pusta kota Muntok.
"Kemerdekaan Penuh itu Dicapai, Tanpa ini Indonesia Sulit Merdeka"
Bangunan itu tampak depan seperti rumah kuno ala Belanda pada umumnya, dulu tempat ini sebagai tempat pengadilan pada tahun 1890 lalu beralih fungsi menjadi tempat persinggahan pejabat timah Banka Tin Winning (BTW). Maka dari itu pesanggrahan ini sempat dijuluki gedung BTW. Begitu datang kami disambut hangat oleh petugas setempat yang merupakan anak kandung dari orang yang sempat merawat bangunan ini karna sempat terbengkalai beberapa tahun. Beliau menjelaskan dengan runtut sejarah akan Pesanggrahan Muntok / Wisma Ranggam ini.
"Kemerdekaan Penuh itu Dicapai, Tanpa ini Indonesia Sulit Merdeka"
Bangunan itu tampak depan seperti rumah kuno ala Belanda pada umumnya, dulu tempat ini sebagai tempat pengadilan pada tahun 1890 lalu beralih fungsi menjadi tempat persinggahan pejabat timah Banka Tin Winning (BTW). Maka dari itu pesanggrahan ini sempat dijuluki gedung BTW. Begitu datang kami disambut hangat oleh petugas setempat yang merupakan anak kandung dari orang yang sempat merawat bangunan ini karna sempat terbengkalai beberapa tahun. Beliau menjelaskan dengan runtut sejarah akan Pesanggrahan Muntok / Wisma Ranggam ini.
3.10.18
Tanjung Kalian, Saksi Bisu Perang Dunia II
Pantai yang terletak di ujung barat Pulau Bangka ini masih satu lokasi dengan dermaga Tanjung Kalian, Muntok. Sebelumnya tidak ada yang istimewa dari pantai/dermaga ini, sampai akhirnya kami menemukan bangunan setinggi 65 meter yang masih kokoh yaitu mercusuar. Dibangun oleh Belanda pada tahun 1862, mercusuar ini masih berfungsi sampai saat ini guna aktifitas pelayaran serta lampu navigasinya masih berfungsi 24 jam.
Tidak ada tiket masuk untuk menikmati kawasan pantai, tapi kalau mau naik mercusuarnya dikenakan biaya lima ribu rupiah. Perawatan yang dilakukan petugas setempat menurut saya sangat memuaskan, fasilitas umum seperti toilet dan musholla bersih, selain itu di tangga mercusuar banyak dipasang pengharum ruangan jadi apeknya gak berlebihan :) Yah meskipun banyak coretan vandalisme dari tangan-tangan gak bertanggung jawab.
Tidak ada tiket masuk untuk menikmati kawasan pantai, tapi kalau mau naik mercusuarnya dikenakan biaya lima ribu rupiah. Perawatan yang dilakukan petugas setempat menurut saya sangat memuaskan, fasilitas umum seperti toilet dan musholla bersih, selain itu di tangga mercusuar banyak dipasang pengharum ruangan jadi apeknya gak berlebihan :) Yah meskipun banyak coretan vandalisme dari tangan-tangan gak bertanggung jawab.
10.2.18
Kedaton Ternate yang tak Bersultan
Sengaja mancing pakai laut-laut sebagai prolog kisah-kisah di Ternate biar netizen tau dulu kondisi geografisnya #halah. Salah satu yang paling saya suka ketika menjelajah suatu kawasan adalah menyelami budayanya, karena hal ini bakal bikin saya semakin kaya secara lahir maupun batin bukan secara materi. Saya bisa research langsung dan menikmatinya dengan mata kepala sendiri.
Terlepas dari laut-laut Ternate di postingan kemarin, kali ini saya bakal bagi heritage-nya yang jelas sangat kontras dengan heritage Jawa.
Kedaton Ternate sendiri merupakan peninggalan kerajaan islam pada abad penjajahan dulu, tau sendiri kan Ternate-Tidore tidak asing di telinga kita karena sejak sekolah dasar (SD) kita sudah dijejali sejarah kemerdekaan Indonesia. Kayanya bumi Maluku Utara ini akan rempah-rempah menjadi salah satu pintu masuk kolonel dan kawan-kawan penjajah lainnya lewat jalur laut Filipina. Selain itu Ternate-Tidore juga salah satu tempat tersebar pesatnya agama islam di Maluku, maka dari itu timbulah kerajaan Ternate dan Tidore guna meluluhlantakkan Portugis.
Terlepas dari laut-laut Ternate di postingan kemarin, kali ini saya bakal bagi heritage-nya yang jelas sangat kontras dengan heritage Jawa.
Kedaton Ternate sendiri merupakan peninggalan kerajaan islam pada abad penjajahan dulu, tau sendiri kan Ternate-Tidore tidak asing di telinga kita karena sejak sekolah dasar (SD) kita sudah dijejali sejarah kemerdekaan Indonesia. Kayanya bumi Maluku Utara ini akan rempah-rempah menjadi salah satu pintu masuk kolonel dan kawan-kawan penjajah lainnya lewat jalur laut Filipina. Selain itu Ternate-Tidore juga salah satu tempat tersebar pesatnya agama islam di Maluku, maka dari itu timbulah kerajaan Ternate dan Tidore guna meluluhlantakkan Portugis.
Nah, terus kenapa dinamakan kedaton? Apa bahasa "sana" nya keraton atau ada arti tersendiri?
24.9.16
Main ke Surabaya !
Waaaaaaaaaaaaaaaaah ga kerasa banget sudah awal semester tiga!!
Liburan semesteran kemarin yang kurang lebih dua setengah bulan sangat produktif bagi saya. Lucky me bisa travelling ke Lumajang, Surabaya, Kediri, Tulungagung, Pacitan, Madura, Gresik, Malang Selatan, bahkan ke Bandung juga eheheheheh. Selain itu saya juga disibukkan sama kerja sihonline shop tapi sok sok an ngomong nya kerja huahaha, tapi cukup menyita banyak waktu dan membuat hari-hari liburan saya lebih produktif. Niatnya sih liburan mau edit-edit video trus di upload ke YouTube sama blogging banyak-banyak, tapi ternyata banyak hal yang lebih asyik hehe.
Cerita kali ini tentang main-main kecil ke Surabaya sama dua temen SMA saya (Mega dan Nadiyah) serta kakak dari Nadiyah (Mba Wenny) , jadilah kita berangkat dari Malang jam sepuluh-an karena saya ngaret buat ambil kamera dulu heheh.
Liburan semesteran kemarin yang kurang lebih dua setengah bulan sangat produktif bagi saya. Lucky me bisa travelling ke Lumajang, Surabaya, Kediri, Tulungagung, Pacitan, Madura, Gresik, Malang Selatan, bahkan ke Bandung juga eheheheheh. Selain itu saya juga disibukkan sama kerja sih
Cerita kali ini tentang main-main kecil ke Surabaya sama dua temen SMA saya (Mega dan Nadiyah) serta kakak dari Nadiyah (Mba Wenny) , jadilah kita berangkat dari Malang jam sepuluh-an karena saya ngaret buat ambil kamera dulu heheh.
2.7.16
About Malang : Masjid Tiban
Semenjak kuliah saya lebih banyak teman yang asalnya dari luar Malang (yaiyalah) dan salah satu problem yang lumayan sering saya temui adalah : temen minta ditunjukin arah kesini kesitu dan selalu saya jawab....... "eh aku ngga begitu ngerti Malang". Kan payah banget! Sampai akhirnya saya bersikeras selalu gali informasi entah lewat GPS atau teman yang tahu atau bahkan orang di jalanan.
Kasus ini muncul lagi ketika saya mau berangkat untuk tugas hunting fotografi ke Masjid Tiban di daerah Turen, Malang Selatan. Semua sudah santai tinggal berangkat tiba-tiba "loh.. tak kira kamu tau jalan, kan orang Malang asli....."
Hadeeeeh.
Kasus ini muncul lagi ketika saya mau berangkat untuk tugas hunting fotografi ke Masjid Tiban di daerah Turen, Malang Selatan. Semua sudah santai tinggal berangkat tiba-tiba "loh.. tak kira kamu tau jalan, kan orang Malang asli....."
Hadeeeeh.
Langganan:
Postingan (Atom)

