Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan

30.9.18

Muntok bukan Sekedar Tempat Singgah

Menuju ke Bangka bisa melewati berbagai jalur ; dari Jakarta bisa langsung naik pesawat ke Pangkalpinang serta dari Palembang bisa naik kapal untuk berlabuh di Muntok, Bangka Barat. Opsi kedua adalah cara yang saya pilih!


How to get there?

Dari pusat kota Palembang (waktu itu saya posisi di Jembatan Ampera) bisa naik grab/gocar ke pool Damri Palembang dengan tarif sekitar Rp 35.000- 40.000, tapi waktu itu kita lagi-lagi naik Trans Musi yang murah meriah dengan titik awal Halte Monpera dengan pilihan jalur trans KM 12. Letak Damri nya sendiri ada di KM 9 dan untungnya dipinggir jalan, tidak perlu transit dan langsung ke tempat tujuan (harus sering-sering bertanya ke kernet ya kalo gamau salah arah).

10.2.18

One Day in : Tidore

Sayang banget dong kalo sudah ke Ternate tapi nggak ke Tidore?


That's the point !

Meskipun sebenarnya banyak banget pulau-pulau eksotis di sekitar Ternate, tapi jangan sampai ga ke Tidore karena mereka berdua ini memang sudah soulmate huehe. Menuju ke Tidore bisa pakai kapal apa aja karena setiap waktu ada akses kapal ke sana, durasi nya sekitar 30-45 menit an lah. Setelah melewati Pulau Maitara barulah kita sampai di Pulau Tidore.

Luas Tidore cuma 48 km, untuk berkeliling pulau ini butuh waktu satu setengah jam saja! Selain itu memang Tidore lebih bersih daripada Ternte, bahkan pernah menyabet pengharaan kota kecil terbesih sampai delapan kali.

Jadi dengan waktu satu hari tempat apa aja yang bisa dijamah ?

Kedaton Ternate yang tak Bersultan

Sengaja mancing pakai laut-laut sebagai prolog kisah-kisah di Ternate biar netizen tau dulu kondisi geografisnya #halah. Salah satu yang paling saya suka ketika menjelajah suatu kawasan adalah menyelami budayanya, karena hal ini bakal bikin saya semakin kaya secara lahir maupun batin bukan secara materi. Saya bisa research langsung dan menikmatinya dengan mata kepala sendiri.

Terlepas dari laut-laut Ternate di postingan kemarin, kali ini saya bakal bagi heritage-nya yang jelas sangat kontras dengan heritage Jawa.

Kedaton Ternate sendiri merupakan peninggalan kerajaan islam pada abad penjajahan dulu, tau sendiri kan Ternate-Tidore tidak asing di telinga kita karena sejak sekolah dasar (SD) kita sudah dijejali sejarah kemerdekaan Indonesia. Kayanya bumi Maluku Utara ini akan rempah-rempah menjadi salah satu pintu masuk kolonel dan kawan-kawan penjajah lainnya lewat jalur laut Filipina. Selain itu Ternate-Tidore juga salah satu tempat tersebar pesatnya agama islam di Maluku, maka dari itu timbulah kerajaan Ternate dan Tidore guna meluluhlantakkan Portugis.


Nah, terus kenapa dinamakan kedaton? Apa bahasa "sana" nya keraton atau ada arti tersendiri?

10.9.17

Eratnya Budaya Tiang Tengger

Tiang Tengger atau biasa di kenal dengan orang Tengger, merupakan sekumpulan masyarakat  yang berada di daerah Gunung Bromo.  Menurut sejarahnya suku Tengger diyakini merupakan keturunan terakhir kerajaan Majapahit, ketika masyarakat Hindu mulai terdesak oleh kedatangan agama Islam di Jawa mereka memutuskan untuk mengungsi ke wilayah Bali serta pedalaman Gunung Bromo dan Semeru. Nama “Tengger” sendiri berasal dari kedua nama leluhur sepasang suami istri Roro Anteng serta Joko Seger. Yang mana kata Tengger di ambil di akhiran nama Roro Anteng yaitu “Teng” dan Joko Seger yaitu “Ger” dimana mereka merupakan  pemimpin terakhir Majapahit.

Masyarakat  Tengger menempati kaki hingga pedalaman kawasan Bromo, Tengger Semeru, tersebar mulai dari Probolinggo, Lumajang, Ranupane, Malang (Desa Ngadas), hingga Pasuruan. Salah satu desa yang masih memegang teguh adat Tengger ialah Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur, desa terakhir sebelum penanjakan Bromo via jalur Nongkojajar. Mata pencaharian utama warga Desa Wonokitri adalah bercocok tanam, berladang dan berternak. Mereka lebih banyak menaman sayuran seperti wortel, kubis, dan kentang yang sesuai dengan suhu dataran tinggi Bromo. Wisatawan akan lebih sering menjumpai ternak babi daripada ternak lainnya di desa yang mayoritas menganut agama Hindu ini.